Tugas 1 Bahasa Indonesia
- Apa yang dimaksud dengan penalaran?
Penalaran adalah
proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang
menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian
Sesuai
dengan kodratnya, manusia dibekali dengan hasrat ingin tahu. Hasrat ingin tahu
dalam diri manusia akan selalu memunculkan berbagai macam pertanyaan. Sebagai
akibatnya, manusia juga selalu berusaha mencari jawaban terhadap pertanyaan
yang muncul tadi. Hasrat ingin tahu tersebut akan terpenuhi apabila manusia
memperoleh pengetahuan baru atau mampu memecahkan masalah sebagai jawaban atas
pertanyaan-pertanyaan sendiri.
Biasanya
manusia selalu berpikir jika berhadapan dengan banyak permasalahan. Akan
tetapi, tidak semua masalah membuat kita terdorong untuk memikirkannya secara
sungguh-sungguh. Kegiatan berpikir tentang sesuatu secara
sunguh-sungguh dan logis inilah yang disebut Penalaran.
- Apa itu penalaran ilmiah?
Berdasarkan
KBBI kata ini memiliki kata dasar yaitu nalar, dimana artinya pertimbangan
tentang baik buruk. Aktivitas yang memungkinkan seseorang berpikir
logis; jangkauan pikir; kekuatan pikir. Sedangkan penalaran merupakan
proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera(pengamatan empirik)
yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian.
Sedangkan ilmiah dapat
diartikan sebagai Ilmiah adalah bersifat ilmu; secara ilmu
pengetahuan; memenuhi syarat (kaidah) ilmu pengetahuan. Namun manjadi kata populer bersifat
ilmu, tetapi menggunakan bahasa umum sehingga mudah dipahami oleh masyarakat
awam (tentang artikel, gaya penulisan karya ilmiah).
Sehingga
dapat disimpulkan bahwa enalaran adalah proses pemikiran untuk memperoleh
kesimpulan yang logis berdasarkan fakta yang relevan. Dengan kata lain,
penalaran adalah proses penafsiran fakta sebagai dasaruntukmenarikkesimpulan.
Sehingga
secara umum penalaran ilmiah dapat diartikan sebagai suatu
proses berfikir dengan menghubung-hubungkan bukti,fakta atau petunjuk yang
menuju kepada suatu kesimpulan atau dengan kata lain penalaran adalah proses
berfikit yang sistematik dan logis untuk memperoleh sebuah kesimpulan. Dan
bahan kesimpulan itu dapat berupa fakta, informasi, pengalaman atau pendapat
dari beberapa ahli.
- Contoh gagasan yang bersifat Ilmiah:
Cara
Mendukung Gagasan
Ada
4 cara yang dapat dilakukan seorang penulis untuk mendukung gagasan yang
diusungnya pada tulisannya, yaitu (1) menampilkan contoh; (2) memberi
ilustrasi; (3) memasukkan kutipan; dan (4) memaparkan data.
Menampilkan
contoh dan memberi ilustrasi
Keduanya
merupakan cara termudah yang dapat dilakukan seorang penulis untuk mendukung
gagasannya. Untuk ini, penulis dapat mengambil contoh atau ilustrasi dengan
mencari informasi dari perpustakaan, atau lebih mudah lagi dengan memberi
contoh-contoh dari pengetahuan yang dipunyainya dan pengalaman hidupnya. Lain
dari pada itu, menampilkan contoh dan memberi ilustrasi suatu gagasan
berdasarkan peristiwa yang didasarkan pada pengalaman nyata biasanya akan
membentuk tulisan yang menarik untuk dibaca.
Tetapi, untuk hal tersebut di atas perlu dingat bahwa ada 2 hal yang perlu mendapat perhatian: (1) teknik mendukung gagasan dengan cara ini dianggap teknik paling lemah, oleh sebab itu penulis sangat perlu untuk hati-hati jika menggunakan teknik ini; (2) harus dicamkan, bila contoh atau ilustrasi yang diambil memang merupakan contoh dan ilustrasi yang representatif (mewakili dengan baik gagasan yang diusung).
Data berupa angka-angka atau paparan statistik seringkali sukar disajikan oleh penulis, tetapi cara ini adalah cara terbaik untuk memperkuat gagasan ilmiah yang diusung penulis. Relevansi data, biar bagaimanapun harus diperhatikan dan dipertimbangkan sebelum data dipaparkan kepada pembaca.
Tetapi, untuk hal tersebut di atas perlu dingat bahwa ada 2 hal yang perlu mendapat perhatian: (1) teknik mendukung gagasan dengan cara ini dianggap teknik paling lemah, oleh sebab itu penulis sangat perlu untuk hati-hati jika menggunakan teknik ini; (2) harus dicamkan, bila contoh atau ilustrasi yang diambil memang merupakan contoh dan ilustrasi yang representatif (mewakili dengan baik gagasan yang diusung).
Data berupa angka-angka atau paparan statistik seringkali sukar disajikan oleh penulis, tetapi cara ini adalah cara terbaik untuk memperkuat gagasan ilmiah yang diusung penulis. Relevansi data, biar bagaimanapun harus diperhatikan dan dipertimbangkan sebelum data dipaparkan kepada pembaca.
Memasukkan
Kutipan
Cara
yang juga sangat penting dalam penulisan karya tulis ilmiah, untuk tujuan
memperkuat dan mendukung gagasan penulis, adalah dengan menggunakan kutipan
(memasukkan kutipan). Kesulitan teknik untuk mendukung gagasan dengan cara ini
tergolong relatif. Penulis harus dapat mempertimbangkan pernyataan siapa yang dikutip
dan bagaimana memperoleh sumber yang cocok dan pas agar mendapatkan kutipan
yang betul-betul diharapkan memenuhi syarat. Teknik memasukkan kutipan ini
sangat perlu diusahakan oleh sebab dukungan terhadap gagasan dianggap paling
kuat dibanding dengan teknik paparan data atau statistik.
Jenis
Kutipan
Dalam
penulisan, ada bentuk kutipan yang dapat digunakan, meliputi: (1) kutipan
langsung; dan (2) kutipan tidak langsung. Kutipan langsung adalah kutipan yang
diambil persis sama sebagaimana sumber asal dengan tidak mengubah susunan
kalimatnya. Kutipan langsung dalam karya tulis diberi tanda kutip (tanda baca
berupa tanda kutip ”.....”). Sementara kutipan tidak langsung dalam
penulisannya pada naskah karya tulis tidak membutuhkan tanda kutip.
Bentuk gramatika yang digunakan pada kutipan merupakan frase atau kaluasa berisi laporan informasi pinjaman dari sumber lain. Contoh frase yang sering digunakan untuk menyatakan kutipan langsung atau tidak langsung misalnya:
..............mengatakan (bahwa)................
..............melaporkan (bahwa)................
..............mempertahankan (bahwa)................
..............menyebutkan (bahwa)................
..............menyatakan (bahwa)................
Menurut................
Sebagaimana dinyatakan oleh..................
Sesuai dengan.................
Dilaporkan oleh...................
Bentuk gramatika yang digunakan pada kutipan merupakan frase atau kaluasa berisi laporan informasi pinjaman dari sumber lain. Contoh frase yang sering digunakan untuk menyatakan kutipan langsung atau tidak langsung misalnya:
..............mengatakan (bahwa)................
..............melaporkan (bahwa)................
..............mempertahankan (bahwa)................
..............menyebutkan (bahwa)................
..............menyatakan (bahwa)................
Menurut................
Sebagaimana dinyatakan oleh..................
Sesuai dengan.................
Dilaporkan oleh...................
- Perbedaan berpikir Deduktif dan Induktif:
1.
Penalaran Induktif dan Coraknya
Penalaran induktif adalah suatu proses berpikir yang bertolak dari sesuatu yang khusus menuju sesuatu yang umum.
Penalaran induktif adalah suatu proses berpikir yang bertolak dari sesuatu yang khusus menuju sesuatu yang umum.
Penalaran Induktif dapat dilakukan dengan tiga cara:
a. Generalisasi
Generalisasi adalah proses penalaran yang bertolak dari sejumlah gejala atau peristiwa yang serupa untuk menarik kesimpulan mengenai semua atau sebagian dari gejala atau peristiwa itu. Generalisasi diturunka dari gejala-gejala khusus yang diperoleh melalui pengalaman, observasi, wawancara, atau studi dokumentasi. Sumbernya dapat berupa dokumen, statistik, kesaksian, pendapat ahli, peristiwa-peristiwa politik, sosial ekonomi atau hukum. Dari berbagai gejala atau peristiwa khusus itu, orang membentuk opini, sikap, penilaian, keyakinan atau perasaan tertentu.
Beberapa contoh penalaran induktif dengan cara generalisasi adalah sebagai berikut:
1) Berdasarkan pengalaman, seorang ibu dapat membedakan atau menyimpulkan arti tangisan bayinya, sebagai ungkapan rasa lapar atau haus, sakit atau tidak nyaman.
2) Berdasarkan pengamatannya, seorang ilmuwan menemukan bahwa kambing, sapi, onta, kerbau, kucing, harimau, gajah, rusa, kera adalah binatang menyusui. Hewan-hewan itu menghasilkan turunannya melalui kelahiran. Dari temuannya itu, ia membuat generalisasi bahwa semua binatang menyusui mereproduksi turunannya melalui kelahiran.
b. Analogi
Analogi adalah suatu proses yag bertolak dari peristiwa atau gejala khusus yang satu sama lain memiliki kesamaan untuk menarik sebuah kesimpulan. Karena titik tolak penalaran ini adalah kesamaan karakteristik di antara dua hal, maka kesimpulannya akan menyiratkan ”Apa yang berlaku pada satu hal, akan pula berlaku untuk hal lainya”. Dengan demikian, dasar kesimpula yang digunakan merupakan ciri pokok atau esensial dari dua hal yang dianalogikan.
Beberapa contoh penalaran induktif dengan cara analogi adalah sebagai berikut:
1)
Dalam riset medis, para peneliti mengamati berbagai efek dari bermacam bahan
melalui eksperimen binatang seperti tikus dan kera, yang dalam beberapa hal
memiliki kesamaan karakter anatomis dengan manusia. Dari kajian itu, akan
ditarik kesimpulan bahwa efek bahan-bahan uji coba yang ditemukan pada binatang
juga akan terjadi pada manusia.
2) Dr. Maria C. Diamond, seorang profesor anatomi dari University of California tertarik untuk meneliti pengaruh pil kontrasepsi terhadap pertumbuha cerebral cortex wanita, sebuah bagian otak yang mengatur kecerdasan. Dia menginjeksi sejumlah tikus betina dengan sebuah hormon yang isinya serupa dengan pil. Hasilnya tikus-tikus itu memperlihatkan pertumbuhan yang sangat rendah dibandingkan dengan tikus-tikus yang tidak diberi hormon itu. Berdasarkan studi itu, Dr. Diamond menyimpulkan bahwa pil kontrasepsi dapat menghambat perkembangan otak penggunanya.
Dalam contoh penelitian tersebut, Dr. Diamond menganalogikan anatomi tikus dengan manusia. Jadi apa yang terjadi pada tikus, akan terjadi pula pada manusia.
c. Hubungan Kausal (Sebab Akibat)
Penalaran induktif dengan melalui hubungan kausal (sebab akibat) merupakan penalaran yang bertolak dari hukum kausalitas bahwa semua peristiwa yang terjadi di dunia ini terjadi dalam rangkaian sebab akibat. Tak ada suatu gejala atau kejadian pun yang muncul tanpa penyebab.
Cara berpikir seperti itu sebenarnya lazim digunakan dalam kehidupan sehari-hari, seperti halnya dalam dunia ilmu pengetahuan.
Contoh:
1) Ketika seorang ibu melihat awan tebal menggantung, dia segera memunguti pakaian yang sedang dijemurnya. Tindakannya itu terdorong oleh pengalamannya bahwa mendung tebal (sebab) adalah pertanda akan turun hujan (akibat).
2) Seorang petani menanam berbagai jenis pohon dipekarangannya, tanaman tersebut dia sirami, dia rawat dan dia beri pupuk. Anehnya, tanaman itu bukannya semakin segar, melainkan layu bahkan mati. Tanaman yang mati dia cabuti. Ia melihat ternyata akar-akarnya rusak da dipenuhi rayap. Berdasarkan temuannya itu, petani tersebut menyimpulkan bahwa biang keladi rusaknya tanaman (akibat) adalah rayap (sebab).
2. Penalaran Deduktif dan Coraknya
Penalaran deduksi adalah suatu proses berpikir yang bertolak dari sesuatu yang umum (prinsip, hukum, teori atau keyakinan) menuju hal-hal khusus. Berdasarkan sesuatu yang umum itu, ditariklah kesimpulan tentang hal-hal khusus yang merupakan bagian dari kasus atau peristiwa khusus itu.
Contoh :
Semua makhluk hidup akan mati
Manusia adalah makhluk hidup
Karena itu, semua manusi akan mati.
Dari contoh tersebut dapat diketahui bahwa proses penalaran itu berlangsung dalam tiga tahap.
Pertama, generalisasi sebagai pangkal bertolak (pernyataan pertama merupakan generalisasi yang bersumber dari keyakina atau pengetahuan yang sudah diketahui dan diakui kebenarannya.
Kedua, penerapan atau perincian generalisasi melalui kasus atau kejadian tertentu.
Ketiga, kesimpulan deduktif yang berlaku bagi kasus atau peristiwa khusus itu.
Penalaran deduktif dapat dilakukan dengan dua cara:
a. Silogisme
Silogisme adalah suatu proses penalaran yang menghubungkan dua proposisi (pernyataan) yang berlainan untuk menurunkan sebuah kesimpulan yang merupakan proposisi yang ketiga. Proposisi merupakan pernyataan yang dapat dibuktikan kebenarannya atau dapat ditolak karena kesalahan yang terkandung didalamnya.
Dari pengertian di atas, silogisme terdiri atas tiga bagian yakni: premis mayor, premis minor, dan kesimpulan. Yang dimaksud dengan premis adalah proposisi yang menjadi dasar bagi argumentasi. Premis mayor mengandung term mayor dari silogisme, merupakan geeralisasi atau proposisis yang dianggap bear bagi semua unsur atau anggota kelas tertentu. Premis minor mengandung term minor atau tengah dari silogisme, berisi proposisi yang mengidentifikasi atau menuntuk sebuah kasus atau peristiwa khusus sebagai anggota dari kelas itu. Kesimpulan adalah proposisi yang menyatakan bahwa apa yang berlaku bagi seluruh kelas, akan berlaku pula bagi anggota-anggotanya.
Contoh:
Premis mayor : Semua cendekiawan adalah pemikir
Premis minor : Habibie adalah cendekiawan
Kesimpulan : Jadi, Habibie adalah pemikir.
b. Entinem
Entiem adalah suatu proses penalaran dengan menghilangkan bagian silogisme yang dianggap telah dipahami.
Contoh:
Berangkat dari bentuk silogisme secara lengkap:
Premis mayor : Semua renternir adalah penghisap darah dari orang yang
sedang kesusahan
Premis minor : Pak Sastro adalah renternir
Kesimpulan : Jadi, Pak Sastro adalah peghisap darah orang yag
kesusahan.
Kalau proses penalaran itu dirubah dalam bentuk entinem, maka bunyinya hanya menjadi ”Pak Sastro adalah renternir, yang menghisap darah orang yang sedang kesusahan.”
- Perbedaan Karangan Ilmiah dan Non-Ilmiah:
Istilah
karya ilmiah dan nonilmiah merupakan istilah yang sudah sangat lazim diketahui
orang dalam dunia tulis-menulis. Berkaitan dengan istilah ini, ada juga
sebagian ahli bahasa menyebutkan karya fiksi dan nonfiksi. Terlepas dari
bervariasinya penamaan tersebut, hal yang sangat penting untuk diketahui adalah
baik karya ilmiah maupun nonilmiah/fiksi dan nonfiksi atau apa pun namanya,
kedua-keduanya memiliki perbedaan yang signifikan.
Perbedaan-perbedaan
yang dimaksud dapat dicermati dari beberapa aspek.
Pertama
Karya
ilmiah harus merupakan pembahasan suatu hasil penelitian (faktual objektif).
Faktual objektif adalah adanya kesesuaian antara fakta dan objek yang diteliti.
Kesesuaian ini harus dibuktikan dengan pengamatan atau empiri.
Kedua
Karya
ilmiah bersifat metodis dan sistematis. Artinya, dalam pembahasan masalah
digunakan metode atau cara-cara tertentu dengan langkah-langkah yang teratur
dan terkontrol melalui proses pengidentifikasian masalah dan penentuan
strategi.
Ketiga
Dalam
pembahasannya, tulisan ilmiah menggunakan ragam bahasa ilmiah. Dengan kata
lain, ia ditulis dengan menggunakan kode etik penulisan karya ilmiah.
Perbedaan-perbedaan
inilah yang dijadikan dasar para ahli bahasa dalam melakukan pengklasifikasian.
Karya nonilmiah sangat bervariasi topik dan cara penyajiannya, tetapi isinya
tidak didukung fakta umum. Karangan nonilmiah ditulis berdasarkan fakta
pribadi, dan umumnya bersifat subyektif. Bahasanya bisa konkret atau abstrak,
gaya bahasanya nonformal dan populer, walaupun kadang-kadang juga formal dan
teknis.
Sumber:
https://id.wikipedia.org/wiki/Penalaran
http://www.seputarpengetahuan.com/2014/12/pengertian-dan-metode-penalaran-menurut.html
https://hadi27.wordpress.com/penalaran-dalam-penulisan-karya-ilmiah/
http://ikanovitas.blogspot.co.id/2014/03/konsep-penalaran-ilmiah-dan-kaitannya_1344.html
http://deyasititkj3.blogspot.co.id/2015/04/fakta-merupakan-unsur-dasar-dari.html
http://penelitiantindakankelas.blogspot.co.id/2012/12/cara-mendukung-gagasan-dalam-karya-tulis.html
Komentar
Posting Komentar